Lokakarya Mini Lintas Sektor di Kecamatan Kesamben pada Rabu, 26 November 2025 membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan SPPG, kesiapsiagaan bencana, dan kesehatan jiwa masyarakat sekolah. Kegiatan yang dipusatkan di wilayah kerja Puskesmas Kesamben dan Puskesmas Blimbing Kesamben ini dihadiri Camat Kesamben, Danramil, perwakilan Kapolsek, Kepala Puskesmas, pengawas SD / MI, Koordinator K3 SD/MI Kepala Desa, Ketua Yayasan SPPG, beserta undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Camat Kesamben menekankan pentingnya MBG sekaligus mengundang seluruh sektor agar tidak tertinggal informasi bahwa dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kesamben sudah mulai beroperasi. Lebih lanjut Camat menjelaskan, saat ini terdapat total enam titik lokasi SPPG dimana empat diantaranya belum beroperasi.

Camat menegaskan bahwa sebelum SPPG beroperasi penuh, seluruh ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan Dinas Kesehatan dan harus dipenuhi. Ia juga mendorong pemberdayaan potensi lokal, agar SPPG mampu menyerap produk-produk pangan dari masyarakat setempat, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berjalan.

Masih dalam konteks MBG, Camat mengajak semua pihak terus memadukan dan mensinergikan hasil sosialisasi MBG di Kabupaten Jombang, menjaga komunikasi aktif, dan siap mengantisipasi kritik publik dengan perbaikan berkelanjutan. Camat juga menekankan pentingnya kolaborasi SPPG dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) agar distribusi manfaat bagi penerima sasaran kian luas.

Camat juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban wilayah, termasuk kesiapsiagaan menghadapi bencana, mengingat beberapa area di Kesamben merupakan langganan banjir yang membutuhkan kewaspadaan dan antisipasi bersama. Masyarakat diajak memperkuat komunikasi lintas sektor serta memanfaatkan jalur koordinasi yang sudah ada dengan unsur TNI, Polri, BPBD, dan Puskesmas ketika terjadi keadaan darurat.

Danramil Kesamben dalam kesempatan itu menegaskan komitmen TNI untuk mengawal dan mengamankan pelaksanaan program MBG. Ia mengajak semua unsur untuk bersinergi, termasuk dalam mendukung percepatan program KDMP (Koperasi Desa Merah Putih).

Kepala Puskesmas menyampaikan mulai 27 Oktober 2025 jam layanan Puskesmas diperpanjang, dengan jam buka loket pendaftaran hari Senin–Kamis hingga pukul 14.30 dan Jumat hingga pukul 13.30 agar masyarakat memperoleh waktu layanan yang lebih panjang. Oleh karena itu  masyarakat yang memiliki masalah kesehatan di himbau untuk dapat memeriksakan dirinya ke Pukesmas terdekat. Adapun pada akhir November ini Puskesmas Kesamben juga mendapat tambahan tenaga dokter dari Program Internship Kementerian Kesehatan, sehingga mutu pelayanan diharapkan meningkat, dan lebih banyak pasien yang dapat ditangani langsung oleh dokter.

Lokakarya dilanjutkan dengan paparan teknis IKL dan SLHS oleh sanitarian Puskesmas Kesamben yang menjelaskan peran puskesmas dalam mengawal keamanan pangan program MBG. Sanitarian menyoroti tugas puskesmas melakukan inspeksi kesehatan lingkungan, pengambilan sampel makanan, air, usap alat masak dan alat makan, hingga usap tangan penjamah, serta pembinaan rutin ke SPPG minimal satu kali dalam setahun.

Dalam materi disampaikan standar higiene sanitasi pangan olahan siap saji, termasuk lima kunci keamanan pangan: menjaga kebersihan, menggunakan air dan bahan baku yang aman, memasak dengan benar, memisahkan pangan mentah dan matang, serta menjaga makanan pada suhu aman. Peserta juga mendapat penjelasan alur penerbitan SLHS, mulai dari pengujian sampel di laboratorium, penilaian IKL, pelatihan penjamah pangan, hingga pengajuan perizinan secara elektronik melalui sistem Sirindunona.

Sanitarian memaparkan pentingnya pembentukan Tim Pengawas Keamanan Pangan di tingkat kecamatan, sekolah, dan masyarakat, yang terdiri dari unsur sekolah, tenaga kesehatan, dan tokoh lingkungan. Di tingkat sekolah, UKS didorong mengintegrasikan edukasi keamanan pangan, pembiasaan cuci tangan pakai sabun, pengawasan kantin, dan pemantauan kondisi sanitasi, termasuk sarana cuci tangan dan pengelolaan sampah.

Paparan berikutnya disampaikan petugas Puskesmas Blimbing Kesamben mengenai mitigasi bidang bencana, yang menyoroti berbagai jenis bencana dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Dijelaskan bahwa bencana, baik alam maupun nonalam, dapat menyebabkan kematian, luka, kecacatan, kurang gizi, terganggunya layanan kesehatan, kerusakan fasilitas, dan masalah psikososial berkepanjangan.

Materi menguraikan konsep mitigasi kesehatan sebagai rangkaian upaya mengurangi risiko krisis kesehatan melalui peningkatan kapasitas SDM, penguatan sarana, dan penyusunan rencana menghadapi ancaman bencana. Peserta diperkenalkan dengan peta rawan bencana, pengembangan prosedur kerja, penyebarluasan informasi, serta langkah-langkah pencegahan dan mitigasi struktural seperti penguatan fasilitas kesehatan dan sarana komunikasi darurat.

Dibahas pula karakteristik bencana seperti banjir, gempa, dan tanah longsor beserta konsekuensi kesehatan yang sering muncul, termasuk trauma, penyakit diare, penyakit kulit, dan risiko penyakit menular. Petugas menekankan pentingnya menjaga kebersihan, memastikan air minum aman, memanfaatkan penjernih air saat sumber tercemar, serta segera memeriksakan diri bila ada keluhan kesehatan selama dan setelah bencana.

Sebagai bagian dari edukasi, peserta memperoleh informasi tentang penyakit leptospirosis yang sering muncul setelah banjir, dengan gejala demam tinggi, nyeri otot, mata kemerahan, dan risiko gangguan organ. Masyarakat diimbau mencegah perindukan tikus, membersihkan genangan air, menggunakan alat pelindung saat kontak dengan air banjir, dan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat di masa tanggap darurat.[3]

Sesi terakhir diisi dengan pemaparan orientasi P3LP (Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis) oleh petugas Blimbing Kesamben yang menjadi pengampu program kesehatan jiwa. P3LP diperkenalkan sebagai bantuan psikologis paling dasar bagi individu yang mengalami peristiwa berat dan menimbulkan luka psikologis, dengan tujuan mencegah gejala berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Materi menjelaskan bahwa luka psikologis bisa muncul dalam bentuk kecemasan, depresi, distress, burnout, kedukaan, maupun shock yang mengganggu aktivitas harian. Gejala dapat tampak pada aspek fisik seperti jantung berdebar atau gangguan tidur, aspek emosi seperti rasa takut dan marah, aspek pikiran seperti sulit konsentrasi, hingga perubahan perilaku dan relasi sosial.

Peserta diperkenalkan dengan empat tingkatan luka psikologis: devian, distress, disfungsi, dan dangerous, yang membantu petugas dan guru mengenali tingkat keparahan masalah. P3LP ditekankan bukan sebagai layanan konseling penuh, tetapi sebagai penanganan cepat dan sederhana sebelum individu dirujuk ke tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater bila diperlukan.

Dalam rencana tindak lanjut, Puskesmas Blimbing Kesamben akan menginisiasi pelatihan First Aider P3LP untuk siswa-siswi di sekolah pemerintah, terutama di SDN, MIN, SMPN, dan SMAN di wilayah kerja puskesmas, mulai tahun 2026. First aider yang dipersiapkan diharapkan mampu menjadi teman sebaya yang menenangkan, dipercaya, dan terlatih untuk memberi dukungan awal, sekaligus menjembatani akses menuju layanan kesehatan jiwa formal dan kanal bantuan seperti telekonseling dan layanan pengaduan kekerasan.

Melalui rangkaian sambutan dan paparan tersebut, Lokakaya mini lintas sektor di Kecamatan Kesamben tidak hanya menguatkan sinergi lintas sektor dalam menyukseskan MBG, tetapi juga mempertegas kesiapan wilayah menghadapi bencana serta meningkatnya kepedulian terhadap kesehatan jiwa anak dan remaja sekolah. Dengan kolaborasi erat antara pemerintah kecamatan, TNI, Polri, puskesmas, sekolah, dan masyarakat, diharapkan seluruh program dapat berjalan beriringan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat di Kecamatan Kesamben.